Thursday, 30 December 2010

TNI AU Beli Dua Unit Pesawat Boeing 737-400

Garuda Boeing 737 400

TNI Angkatan Udara dan PT Garuda Indonesia mengadakan penandatangan nota kesepahaman tentang pengalihan dua unit pesawat Boeing 737- 400, yang ditandatangai oleh Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat dan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Penandatanganan nota kesepahaman ini adalah salah satu tahapan dalam mewujudkan proses pembelian 2 unit pesawat Boeing 737-400 dari PT Garuda Indonesia (Persero) kepada pihak TNI Angkatan Udara, selanjutnya akan dilaksanakan proses pengadaan barang/jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu penyusunan dokumen kontrak jual beli.

Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, dalam Rencana Strategis Tahun 2010-2012, TNI Angkatan Udara telah memprogramkan dan menganggarkan untuk meningkatkan kemampuan alutsista agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penangkal, penindak, dan pemulih dalam rangka menegakkan kedaulatan negara di udara yang dilaksanakan salah satunya dengan OMSP.

“TNI Angkatan Udara mengharapkan bahwa kegiatan penyusunan dokumen kontrak pembelian pararel dengan kegiatan pelatihan di bidang pemeliharaan, dan tim teknis, agar supaya pesawat tersebut dapat dioperasikan di TNI Angkatan Udara dengan segera”, ungkapnya.

Sementara itu, Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar menyatakan, sebagai “national flag carrier” selain menjalankan misi sebagai salah sebagai suatu entitas bisnis, Garuda memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan aspek perekonomian , sosial dan budaya, serta pertahanan dan keamanan negara.

Dikatakan, sejalan dengan peranannya tersebut, maka Garuda Indonesia senantiasa berupaya untuk dapat menjalin kerja sama serta memberikan dukungan bagi berbagai lembaga dan intitusi agar tercipta sinergi yang dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dan pada umumnya bagi negara dan bangsa.

Darussalam Class : OPV Baru Milik Angkatan Laut Brunei


Darussalam class OPV (photo : Arne Luetkenhorst)

Beberapa waktu yang lalu Brunei menghibahkan dua kapal patroli Waspada class kepada Pemerintah Indonesia. Demikian juga menyusul ketidaksepahaman antara BAe System dan Pemerintah Brunei atas 3 kapal OPV/korvet Nakhoda Ragam class maka hal ini berlanjut dengan penjualan ketiga kapal tersebut kepada Aljazair.


Rupanya Pemerintah Brunei telah menyiapkan pengganti kapal-kapal tersebut. Selain memesan empat kapal Ijtihad class diketahui juga bahwa Brunei telah memesan kapal OPV kepada galangan kapal Lurssen, Jerman.



Darussalam class OPV (photo : Juergen Braker)

Kapal tipe OPV dengan nomor lambung 06 dan bernama Darussalam class ini telah terlihat publik ketika dilakukan ujicoba di kanal Kiel, Jerman.

Belum diketahui pasti berapa jumlah pesanan kapal OPV ini demikian juga dengan spesifikasi teknisnya. Terlihat bahwa kapal ini dilengkapi dengan kanon utama 57 mm dan dilengkapi dengan dua set peluncur rudal SSM.

Pindad Perkenalkan Panser Anoa V2

Panser 6x6 Anoa serie V2

Panser "Anoa" Buatan Pindad Makin Tangguh


KOMPAS.com — Pameran Indo Defense 2010 dimanfaatkan PT Pindad untuk memamerkan produk-produk terbarunya. Salah satu produk terbarunya adalah APC Anoa V2 6 x 6 yang merupakan versi terbaru dari produksi panser mereka.

APC Anoa V2 6 x 6 atau armored personal carrier Anoa V2 6 x 6 sedikit berbeda dengan versi sebelumnya. Sukidi Amd, Assistant Engineering Manager PT Pindad (Persero), mengungkapkan, "Panser ini memiliki beberapa modifikasi yang membuatnya lebih maju dan nyaman dari versi sebelumnya." Ia mengatakan, salah satu kelebihannya ada pada main hole yang terdapat di bagian atasnya. Bagian tersebut dibuat lebih bulat dan cembung agar bisa memaksimalkan fungsi pertahanan sehingga bila tertembak, peluru akan memantul.

Kelebihan lainnya ada pada pelindung kaca samping dan depan. "Sebelumnya, pelindung kaca samping dan depan harus dibuka dan ditutup dari luar. Hal itu menyulitkan. Sekarang, pelindung kaca samping dan depan bisa dibuka dan ditutup dari dalam," ujar Sukidi. Dengan mengoperasikan pelindung kaca samping dari dalam, selain lebih nyaman, bagian ini juga meminimalkan risiko.

Sukidi menjelaskan, kelebihan utama Anoa V2 ada pada sistem navigasi. "Anoa V2 memiliki Remote Control Weapon System yang memungkinkan pengoperasian senjata menggunakan joystick. Jadi, seperti main game," urainya. Sistem itu memperbaiki kelemahan Anoa versi sebelumnya yang mengharuskan pengoperasian senjata secara manual. Hal itu menurutnya sangat memudahkan tugas tentara.

Anoa V2 dengan kanon RCWS

Sebaliknya, sistem yang tadinya hanya mendukung pengoperasian secara otomatis kini dilengkapi kemampuan operasi secara manual tanpa menghilangkan otomatisnya. "Ramdoor yang ada di bagian belakang Anoa dibuat juga sistem pengoperasian manualnya sehingga bila sistem otomatis mengalami kerusakan, ramdoor tetap dapat berfungsi," ujar Sukidi. Bagian interior dari Anoa V2 juga berbeda dengan versi sebelumnya yang terdiri dari kursi-kursi yang bisa dilipat.

Anoa V2 mampu memuat 13 kru, memiliki panjang dan lebar 6.000 x 2.500 mm serta dilengkapi dengan peralatan khusus, seperti GPS dan NVG. Sistem komunikasinya menggunakan VHF dan HF Intercomset System. Sementara itu, sistem senjatanya menggunakan Smoke Shield kaliber 66 mm dan Armanents 7,62 mm dan 12,7 mm. Rasio daya berbanding beratnya adalah 22,85 HP, kecepatan maksimum 80 km/jam, dan radius putar 9,5 meter. Mesinnya adalah 6 silinder segaris dengan turbocharger berpendingin dalam dan berdaya 320 HP.

Sukidi menjelaskan, Anoa V2 ini baru mulai dikembangkan sekitar dua bulan yang lalu. "Beberapa saat sebelum Indo Defense ini dimulai, Anoa V2 baru saja selesai dibuat dan langsung dikirim," katanya. Saat ini, yang bisa dinikmati di Pameran Indo Defense 2010 adalah prototipe dari produk tersebut. Dengan spesifikasi ini, Anoa V2 dipasarkan terutama bagi Tentara Nasional Indonesia. Selain Anoa V2, Pindad juga memamerkan tiga produk panser terbarunya, yaitu Panser Polisi, Panser Canon, dan Panser Mortir.

Tuesday, 21 December 2010

Rusia-India Akan Teken Kerjasama Pembuatan Jet Tempur Siluman

PAK FA saat uji penerbangan perdana 29 Januari 2010. (Foto: Sukhoi)

Rusia dan India menyetujui perkiraan anggaran perancangan jet tempur siluman generasi kelima yang dikembangkan bersama kedua negara, diumumkan pimpinan perusahaan dirgantara India Hindustan Aeronautics Limited (HAL) Ashok Nayak saat wawancara dengan RIA Novosti.

Nayak mengatakan diperkirakan akan menghabiskan 295 juta dolar, pengerjaan diharapkan selesai 18 bulan.

Kontrak akan diteken oleh wakil HAL dan perusahaan Rusia United Aircraft Corporation (UAC) saat kunjungan kerja Presiden Rusia Dmitry Medvedev ke India pada 20-22 Desember.

UAC dan HAL sepakat mengembangkan bersama jet tempur generasi kelima berdasarkan rancangan prototipe T-50 awal tahun. India mengumumkan pembahasan draft proposal selesai didiskusikan dengan Rusia pada awal Oktober.

India berencana membeli hingga 300 jet tempur generasi kelima dan 45 pesawat angkut militer dari Rusia, diumumkan Menteri Pertahanan India.

“Dekade mendatang, kerjasama militer Rusia-India akan fokus pada dua proyek: pesawat angkut dan jet tempur generasi kelima,” ucap Menhan Rusia Anatoly Serdyukov saat kunjungan dua hari ke India awal Oktober.

Kedua negara akan membuat versi kursi tunggal dan tandem, direncanakan selesai 2015-2016.

Pemerintah India menginvestasikan lebih 25 milyar dolar untuk membeli jet tempur generasi kelima, diberitakan harian India The Times of India.

Prototipe T-50 pertama kali terbang 29 Januari 2010, diharapkan AU India mengoperasikan jet tempur generasi kelima pada 2010.

Rusia Bangun Tiga Frigate untuk Armada Laut Hitam


Pembangunan frigate pertama project 11356 untuk Armada Laut Hitam Rusia dimulai galangan Yantar, diumumkan juru bicara AL Rusia.

Yantar memenangkan tender pembangunan tiga frigate Project 11356 Oktober lalu. Frigate pertama diberi nama Admiral Grigorovich seorang mantan Menteri Angkatan Laut Rusia pada 1911-1917.

KASAL Rusia Laksamana Vladimir Vysotsky mengatakan satu atau dua frigate Project 11356 akan bergabung dengan Armada Laut Hitam setiap tahunnya mulai 2013.

Frigate berbobot 4000 ton, dilengkapi sepucuk kanon 100 mm, sistem rudal permukaan-udara Shtil, dua CIWS Kashtan, dua tabung torpedo kembar 533 mm dan satu helikopter anti kapal selam.

Yantar sedang membangun tiga frigate Project 11356 milik AL India dibawah kontrak senilai 1,6 milyar dolar diteken 2007. Frigate pertama diapungkan November, diserahterimakan ke AL India pertengahan 2011, dua frigate dikirimkan akhir 2012.

Rusia telah menyerahkan tiga frigate kelas Talwar ke AL India, INS Talwar, INS Trishul dan INS Tabar.

Saturday, 18 December 2010

Kapal Perusak Helikopter Hyuga DDH 181


Kapal perusak helikopter Hyuga (DDH 181) mulai bertugas di Pasukan Bela Diri Laut Jepang (Japan Maritime Self Defense Forces/JMSDF), Rabu, 18 Maret 2009. Nama Hyuga pernah digunakan untuk battleship kelas Ise, yang digunakan pada Perang Dunia II.

Hyuga merupakan kapal perang terbesar yang dioperasikan JMSDF saat ini, akan menggantikan kapal perusak anti kapal selam kelas Haruna. Hyuga kapal pertama dari project 16DDH, setidaknya dua kapal kelas ini direncanakan dibuat. Kapal kedua dalam proses penyelesaian, direncanakan diluncurkan pada tahun ini dan masuk jajaran JMSDF tahun 2011. 16 dimaksudkan tahun ke-16 Kekaisaran Heisei dalam sistim kalender Jepang.

Kapal perusak kelas Haruna yang akan digantikan oleh Hyuga

Untuk alasan politis, kelas Hyuga diklasifikasikan sebagai kapal perusak helikopter. Klasifikasi ini tidak tepat, karena ukuran kapal secara signifikan lebih panjang dibandingkan kapal perusak. Mempunyai dek pesawat yang panjang dan relatif panjang untuk satuan udara.

Kapal ini dapat dibandingkan dengan kapal induk ringan, seperti kelas Invicible Angkatan Laut (AL) Inggris, Giuseppe Garibaldi AL Itali, dan Principe de Asturia AL Spanyol.

Hyuga mempunyai dua elevator serta dilengkapi hanggar. Jepang mengklaim satuan udaranya terdiri dari tiga Sikorsky SH-60K untuk peperangan anti kapal selam (Anti Submarine Warfare/ASW) dan satu MCH-101 untuk peperangan ranjau. Tetapi kapal ini mampu mengangkut hingga 11 helikopter Chinook atau beberapa helikopter ukuran kecil. Hyuga mampu mengoperasikan hingga empat helikopter secara simultan melakukan tinggal landas dan mendarat.


Saat ini Hyuga tidak dapat mengoperasikan pesawat sayap tetap, karena tiadanya pelontar ski di haluan serta peralatan lainnya. Kapal ini hanya membutuhkan sedikit modifikasi agar mampu membawa pesawat sayap tetap dan mungkin akan dilengkapi pesawat berkemampuan V/STOL dimasa mendatang.

Hyuga dijadikan kapal bendera JMSDF untuk satuan 1st Escort Flotilla, bermakas di Yokosuka, Prefektur Kanagawa. Kapal kelas Hyuga tidak dipersiapkan untuk penyerbuan amfibi, akan tetapi kapal ini mampu membawa sedikitnya 350 pelaut. Kemampuan membawa pasukan marinir tidak dipublikasikan untuk alasan politis.

Hyuga mulai dibangun tahun 2006 oleh IHI Marine United Inc. di galangan kapal Yokohama. Kapal ini merupakan kapal perusak JMSDF pertama yang mempunyai awak kapal perempuan, berjumlah 17 orang terdiri 2 orang perwira dan 15 pelaut.


Spesifikasi
Bobot: 13.950 ton standar, 18,000 ton berat penuh
Panjang: 197 m
Lebar: 33 m
Draft: 7 m
Sistem Penggerak: COGAG (Combined Gas Turbine and Gas)
Mesin: 4 General Electric LM2500, 2 shaft, 100.000 HP
Kecepatan: +30 knot
Persenjataan:
1x 16 cell Mk.41 VLS (campuran ESSM dan ASROC)
2x CIWS Phalanx 20 mm
2x triple tabung torpedo 324 mm




Strategic Projection Ship Juan Carlos I Class: Gabungan Kapal Induk dan Kapal Amfibi


Spanyol telah meluncurkan tipe kapal baru yang disebut kapal proyeksi strategis atau Strategic Projection Ship(buque de proyeccion estragerica) yang dinamakan SPS Juan Carlos I. Uniknya kapal ini merupakan kapal serba guna, menggabungkan fungsi kapal induk ringan yang mampu membawa pesawat tempur dan atau helikopter angkut dengan kapal amfibi yang dapat membawa sekoci-sekoci pendarat.


Program kapal ini merunut pada pengalaman operasi laut pasca Perang Dingin dimana kapal-kapal angkatan laut lebih banyak dioperasikan untuk menghadapi konflik skala ringan, ancaman asimetris dan operasi bantuan kemanusiaan. Menurunnya ancaman secara alamiah juga berimbas pada penurunan alokasi pengembangan kekuatan angkatan laut terutama pengadaan kapal baru. Oleh karena itu para perencana Armada Espanola merancang sosok kapal serba guna yang diproyeksikan untuk penugasan-penugasan strategis. Sejak tahun 1980, angkatan laut Barat termasuk Spanyol sering terlibat dalam pasukan perdamaian dan operasi bantuan kemanusiaan di berbagai penjuru dunia.


Pada pelaksanaannya, angkatan laut melibatkan banyak kapal dengan fungsi yang berbeda seperti kapal induk untuk payung udara, kapal angkut amfibi sebagai badan utama, dan kapal perusak kawal sebagai pelindung armada. Padahal proyeksi sekian banyak kapal tersebut tidak sesuai dengan sasaran yang relatif lebih kecil. Tentunya pengoperasian ini memakan biaya operasi yang tidak ekonomis. Angkatan Laut Spanyol menginginkan sosok kapal besar seukuran kapal induk ringan yang bisa mengemban operasi tempur dan non tempur sekaligus. Spanyol memang hanya memiliki sebuah kapal induk ringan SPS Principe de Asturias.


Realisasi program kapal ini mulai dilaksanakan pada tahun 2005 di galangan IZAR, Ferrol Spanyol. Tiga tahun kemudian tepatnya 10 Maret 2008 kapal ini diresmikan oleh Ratu Dona Sofia. Kapal yang berbobot maksimal 27.563 ton ini memiliki landasan pesawat udara (flight deck) sepanjang 202 meter dan dock sepanjang 69,3 meter lebar 16,8 meter. Dengan struktur fisik tersebut Juan Carlos I mampu membawa 19 pesawat tempur AV-8 Sea Harrier atau 32 helikopter angkut sedang jenis NH-90 atau kombinasi 19 pesawat tempur 12 helikopter, serta empat sekoci pendarat jenis Landing Craft Machine (LCM) ber-panjang 23,3 meter yang tiap unitnya mampu membawa muatan seberat 100 ton. Ruang dalamnya dapat menampung 170 kendaraan atau 46 tank tempur ‘Leopard’ dan 50 buah kontainer.

Kapal ini diawaki oleh 247 ABK dan 107 perwira dan pada operasi amfibi mampu membawa 900 pasukan pendarat dan 172 awak pesawat udara. Sedangkan untuk men-jalankan operasi bantuan kemanu-siaan, kapal ini mampu mengungsikan 1000 warga sipil. Fasilitas untuk mendukung personel juga lengkap seperti perangkat pembuat air tawar dari air laut dan generator elektrik yang mampu mendukung kebutuhan 5000 orang.

Spanyol rencananya menambah satu unit kapal sejenis yang peletakan lunasnya telah dilakukan pada bulan Juli 2006. Jenis kapal seperti ini ternyata juga di-minati oleh Australia yang telah meneken kontrak pada tahun 2007. Perusahaan Tenix Australia sebagai kontraktor utama. Perusahaan Spanyol Navantia sebagai pihak yang membuat lambungnya, dan pemasangan seluruh sistem di-lakukan oleh Tenix. Kapal pertama direncanakan dikirim ke Australia pada tahun 2012 dan kapal kedua pada tahun 2013. Kapal pertama masuk jajaran dinas Royal Australian Navy pada tahun 2014 dan unit kedua pada tahun 2015.